Selasa, 24 Mei 2011

Ibu Hamil Di Larang Konsumsi Kafein ?


BUKAN baru-baru ini saja kafein dikenal masyarakat luas. Sejak zaman batu, manusia sudah mengenal kafein. Manusia zaman batu percaya bahwa kafein adalah zat yang dapat meringankan rasa lelah, merangsang kesadaran dan memperbaiki suasana hati. Mereka mengonsumsi kafein dengan cara mengunyah langsung bagian-bagian tertentu tanaman sumber kafein seperti biji, bagian ranting, dahan, daun, atau bagian tanaman lainnya.
Kafein tak lain ialah senyawa kimia golongan alkaloid. Memiliki bentuk kristak dan rasa yang pahit. Tak salah bila kafein sangat identik dengan kopi. Pasalnya, kafein pertama kali ditemukan memang pada biji kopi oleh seorang kimiawan dari Jerman pada tahun 1819.

Sejatinya senyawa kafein merupakan senyawa alamiah yang banyak terdapat pada tanaman bahan pangan. Seperti daun teh, buah kola, guaranina, dan mate. Pada tanaman asalnya, kafein sebenarnya bukanlah bagian dari bahan makanan atau minuman yang bisa dikonsumsi. Pada tanaman-tanaman bahan pangan tersebut, kafein berperan sebagai pestisida alamiah. Kafein akan menghalau serangan hama. Serangga-serangga yang merusak tanaman tersebut akan lumpuh dan akhirnya mati.

Karakter kimiawi lainnya dari kafein adalah kafein bersifat psikoaktif. Mampu merangsang sistem kerja pusat saraf pada manusia. Sifat kafein inilah yang kemudian banyak dimanfaatkan oleh manusia. Banyak orang mengonsumsi kafein supaya tidak mengantuk.

Lalu mengapa kafein kurang baik untuk ibu hamil? Larangan ini berhubungan dengan sifat psikoaktif kafein. Menurut dr Cepi Teguh Pramayadi SpOg, kefein akan menyebabkan denyut jantung meningkat dan juga efek diuretika.

“Kafein menimbulkan efek peningkatan denyut jantung ibu dan efek diuretik atau sering berkemih. Hal ini menyebabkan rasa berdebar dan dehidrasi,” jelasnya.

Kafein yang dikonsumsi akan merangsang sistem saraf pusat untuk bekerja ekstra. Pada jam-jam dimana pusat saraf beristirahat sekalipun, sehingga sitem saraf pusat mebutuhkan suplai oksigen yang ekstra pula. Akibatnya, jantung harus bekerja keras untuk memompa darah lebih kencang, sehingga denyut jantung terasa lebih cepat.

Sering kali ibu hamil merasa dirinya mengalami insomnia. Susah tidur setelah mengonsumsi kafein. Kafein ini juga sangat cepat merangsang produksi asam lambung, sehingga cukup berpotensi menimbulkan masalah bagi wanita yang memiliki riwayat peradangan lambung.

Kafein ini juga, sambung dr Cepi, memengaruhi plasenta. Beberapa ahli mengatakan bahwa kafein dapat menembus lapisan plasenta. Karena kafein  tidak mudah dicerna oleh sistem metabolisme janin yang belum berkembang, kafein ini akan menyebabkan plasenta mengalami vasokonstriksi. Plasenta akan mengecil. Dan ini menyebabkan suplai darah yang kaya oksigen dan makanan berkurang.

“Hal ini akan berpengaruh pada pembuluh darah plasenta yang mengalami vasokonstriksi atau mengecil sehingga suplai oksigen dan makanan dari ibu ke bayi berkurang,” ujarnya.

Kondisi ini jelas merugikan janin karena plasenta adalah akses utama suplai makanan dari ibu ke bayi. Kalau makanan atau oksigen untuk janin berkurang akibat penyempitan itu, akan muncul dampak buruk terhadap janin.

Dampak buruk pertama, menurut dr Cepi, adalah bila suplai oksigen dan makanan kepada bayi berkurang, otomatis perkembangan bayi terhenti. Pada kondisi ini, tubuh sang ibu tidak akan dapat mempertahankan keberadaan janin dalam kandungan.

“Ibu hamil bisa mengalami keguguran atau lahir prematur,” katanya.

Berikutnya adalah kelainan pada janin. Di sini terjadi pertumbuhan janin yang terhambat. “Kelainan pada bayi tidak spesifik karena kafein tidak punya efek karsinogenik. Jadinya bisa ke pertumbuhan janin yang terhambat,” sambung dr Cepi.

Bentuk dari pertumbuhan yang terhambat ini pun bisa bermacam-macam. Salah satu contoh yang disebutkan dalam berbagai literatur adalah testis yang tidak turun. Menurut dr Cepi, kelainan ini pada gilirannya bisa menimbulkan keracunan saat menentukan jenis kelamin bayi. Mengingat testis pada bayi tidak tampak seperti pada kebanyakan testis pada bayi laki-laki.

“Ya, jadi testisnya masuk ke dalam rongga panggul. Jadi, kesan pertama pada jenis kelamin terlihat seperti jenis kelamin perempuan,” jelasnya.

Beberapa sumber juga menyebutkan, risiko lain bisa terjadi pada bayi bila sang ibu mengonsumsi kafein saat hamil. Meskipun bayi lahir selamat, berat badan bayi akan sangat rendah.

Kalau begitu, kafein tidak boleh dikonsumsi sama sekali? Sejauh ini terpenting adalah perhatikan berapa kadar kafein yang terkandung di dalamnya,” terangnya.

Sumber kafein bermacam-macam. Sumber utama kafein berasal dari biji kopi. Per cangkir kopi terkandung kafein rata-rata 40-100 mg. Sumber kafein lain adalah daun teh, cokelat, dan sejumlah minuman ringan seperti kola. Sumber-sumber tersebut mengandung kafein dengan kadar yang berbeda-beda. Dan ini yang harus diketahui.

Menurut dr Cepi, beberapa jenis minuman yang mengandung kafein tinggi sebaiknya dihindari saat hamil. Namun ada juga yang kadarnya masih bisa ditoleransi.

“Contohnya black coffee. Itu kadarnya 425 mg, kopi susu 245 mg, sehingga kopi sangat tidak dianjurkan. Teh juga ada kafeinnya. Tapi karena kadarnya hanya 32 mg, jadi masih boleh dikonsumsi,” tutupnya.
(Genie/Genie/tty)
Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

0 komentar: on "Ibu Hamil Di Larang Konsumsi Kafein ?"

Posting Komentar